Kisruh di dunia sepakbola Indonesia seakan tidak ada habisnya. Mulai dari dugaan korupsi yang ada di tubuh PSSI, hingga dijadikannya sepakbola Indonesia sebagai jembatan menuju kiprah politik beberapa oknum politisi. Bahkan akhir-akhir ini, konflik yang terjadi di tubuh PSSI ini seakan menjadi trending topic bagi media cetak maupun elektronik di Indonesia.
Sedikit mengingatkan kembali, “trio macan” PSSI Nurdin Halid, Nugraha Besoes, dan Nirwan Bakrie merupakan petinggi-petinggi yang sudah tidak dipercayai masyarakat pecinta sepakbola Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu. Namun dengan kekuatan dan backingan yang kuat membuat mereka tetap berkuasa di organisasi sepakbola Indonesia ini. Mereka seperti macan yang mengaum keras mengalahkan siapapun yang menghalangi langkahnya.
Piala AFF 2010 lalu, para pencinta sepakbola Indonesia merapatkan barisan untuk menjatuhkan rezim trio macan tersebut. Dimulai dengan demo-demo kecil yang meminta ketiga orang tersebut turun dari jabatannya. Ada juga yang menempelkan spanduk berbunyi “Kami mendukung timnas bukan PSSI”, dan kegiatan lainnya.
(sumber : www.google.com)
Hal itu merupakan satu bukti akan ketidakpercayaannya lagi terhadap ketiga orang penguasa PSSI tersebut dan mengharapkan adanya revolusi. Bahkan para suporter sepakbola Indonesia pun menilai tidak majunya prestasi sepakbola Indonesia karena ketidak becusannya PSSI dalam mengurus sepakbola Indonesia.
Namun Nurdin Halid dan antek-anteknya seolah tidak melihat dan mendengar apa yang diharapkan masyarakat sepakbola Indonesia. Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie turut mencalonkan diri dalam pemilihan ketua umum PSSI periode 2011-2015. Berbagai cara dilakukan Nurdin cs. untuk mencari suara di pemilihan tersebut.
Masyarakat pecinta sepakbola tetap tidak mendukungnya. Mereka menjagokan jendral George Toisutta dan Arifin Panigoro sebagai ketua umum PSSI. Para pendukung George dan Arifin bahkan membuat sebuah kelompok kecil bernama Kelompok 78 yang mayoritas merupakan para pemilik suara sah di pemilihan ketua umum PSSI 2011.
Setelah beberapa kali kongres pemilihan ketua umum berjalan dead lock atau tanpa hasil, besok Sabtu (9/7) merupakan hari dimana nasib PSSI ditentukan. Merupakan suatu kewajiban untuk Komite Normalisasi yang dalam hal ini mengurus kongres PSSI untuk menghasilkan suatu keputusan yang sah. Karena sebelumnya FIFA telah mengirim ultimatum, jika dalam kongres besok masih belum menghasilkan ketua umum PSSI, maka sepakbola Indonesia dalam hal ini PSSI akan diberikan sanksi.
Besok adalah penentuan nasib sepakbola Indonesia, semuanya masih mungkin terjadi dalam kongres besok, jika tidak menghasilkan ketua umum maka sanksi sudah siap mendatangi sepakbola Indonesia, namun jika seseorang bakal calon ketua umum terpilih maka itu sebuah revolusi di tubuh PSSI. Semoga sejarah baik akan tercipta esok hari. [ilhamnoor™]
