Apa jadinya jika impian anda untuk berprestasi dihalangi oleh satu atau sekelompok orang yang memiliki ambisi pribadi?
Apa jadinya jika anda berada pada komunitas yang besar, namun terdapat dua kubu yang saling “berperang” secara tidak langsung?
Mungkin kedua hal itu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Tak bisa dipungkiri, di era demokrasi ini ternyata masih banyak hal-hal yang bisa membuat dahi berkerut untuk menghadapi masalah-masalah tersebut. Dan yang lebih mengherankan lagi, permasalahan tersebut juga terjadi di dunia olahraga, yang secara logika dituntut untuk bertingkah laku fair play sebagai seorang atlet.
Dalam pengamatan saya, makna fair play tersebut telah ternodai oleh sejumlah kepentingan politik satu atau sekelompok orang. Banyak kontroversi yang terjadi di dunia olahraga, baik itu di segi organisasi suatu tim ataupun atlet yang menjadi pemeran utamanya.
Suatu wadah yang bertujuan untuk menyehatkan jasmani, menyalurkan hobby, dan mencari sebuah prestasi seolah lenyap seketika. Oknum oknum tak bermartabat tersebut memupuskan harapan atlet yang sebenarnya tidak tahu permasalahnnya. Mereka menjadikan arena prestasi ini menjadi arena politik mereka.
Mereka bekerja mengatasnamakan profesionalitas, namun siapa sangka, profesionalitas mereka betujuan untuk meraih komersialitas yang berdampak pada sempitnya ruang gerak atlet untuk meraih prestasi. Ibarat mengambil kesempatan dalam kesempitan, itulah yang mereka lakukan. Tanpa melihat usia dan jabatan seseorang, mereka siap menerkam siapa saja yang menghalangi ambisi mereka.
Tulisan ini dibuat atas dasar keprihatinan penulis terhadap kondisi yang ada pada dunia olahraga Indonesia dan di Bandung pada khususnya.
Tidak bermaksud menggurui, hanya sebuah opini, dan semoga bisa mengilhami.[ilhamnoor™]