Ini kisah tentang sebuah kota besar di Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang cukup padat membuat ruang gerak publiknya cukup aktif. Pergi pagi, pulang malam sudah menjadi rutinitas sebagian warganya untuk berkatifitas.
Bagaikan keran air yang dibuka, setiap pagi jalanan di Bandung penuh sesak oleh kendaraan yang akan mengantar warga menuju tempat aktifitas dan sore menjelang malam, jalanan kota Bandung dipenuhi oleh sebagian besar warganya untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Ratusan mobil dan motor menumpuk di hampir setiap jalanan besar. Tak jarang dari mereka yang saling menyalip sehingga mengundang pengguna jalan lainnya untuk membunyikan klakson kendaraan mereka.
Kejadian tersebut tidak hanya pada hari-hari kerja saja, pada weekend pun kota Bandung mengalami hal yang sama. Bahkan bisa saja jumlah kendaraannya 2 kali lipat dari hari kerja. Itu dikarenakan banyaknya wisata-wisata lokal maupun mancanegara yang sengaja datang untuk berlibur walaupun hanya dua hari. Dan diperparah dengan hadirnya sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang konon mencapai 10.000 pedagang tersebar di tujuh titik di kota bandung.
Berkaca dari semrawutnya Bandung saat ini, maka beberapa upaya dilakukan pemerintah untuk mengurangi volume kendaraan yang otomatis mengurangi jumlah kemacetan. Trans Metro Bandung (TMB) menjadi salah satu solusinya. Pemerintah Bandung berharap masyarakatnya mulai menggunakan kendaraan transportasi masal dan tidak membawa kendaraan pribadinya. Namun kurang baiknya fasilitas yang ditawarkan, membuat masyarakat enggan beranjak dari kendaraan pribadinya.
Selain itu pemerintah pun mengkampanyekan bersepeda menuju tempat kerja (bike to work), jalur sepeda berlandasan warna biru pun dibuat di setiap sisi badan jalan kota Bandung. Bahkan dilakukan hingga dua kali pengecatan (karena pudar, padahal baru beberapa bulan). Namun faktanya, jalur biru tersebut tidak efektif, malah digunakan sebagai area berhenti angkutan kota, becak, taksi, dan lain-lain sehingga menambah kemacetan. Sehingga masyarakat pun malas untuk bersepeda.
Dan beberapa hari yang lalu, satu solusi kembali menjadi alternatif untuk mengurangi kemacetan di Bandung. Pemerintah Propinsi berencana akan membangun monorel yang melintasi kota bandung, kab. bandung barat, dan kab. bandung. Namun sampai saat ini hal tersebut masih berupa wacana.
Jikalau rencana pembuatan monorel tersebut terealisasi, maka bukan tidak mungkin tingkat kemacetan di Bandung bisa ditekan. Namun masalahnya, tidak semua kalangan mau menggunakan transportasi ini. Faktor untung rugi, efektifitas waktu dan nyaman tidaknya menjadi pertimbangan mereka yang hingga saat ini masih enggan meninggalkan kendaraan pribadinya. [ilhamnoor™]



beresan dl angkot pa dada baru monorel..
BalasHapus